Tampilkan postingan dengan label patriarki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label patriarki. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2016

Ronggeng Dukuh Paruk (trilogi), Ahmad Tohari


Ronggeng Dukuh ParukRonggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari
My rating: 1 of 5 stars

Novel ini mungkin penggambaran terbaik dari apa yang dirasakan oleh para survivor/penyintas/korban salah satu tragedi paling hitam dalam sejarah Indonesia: Tragedi 1965. Menariknya novel ini pertama kali diterbitkan pada medio 1980an (1982), dimana kekuasaan Orde Baru di tengah puncak 'kejayaan'nya. Jadi apa seorang Ahmad Tohari sudah pernah merasakan diciduk oleh satuan Kodim terdekat?

Saya pernah membaca, Tragedi 1965 juga menghancurkan gerakan perempuan. Ini ditandai dengan pelarangan organisasi seperti Gerakan Wanita Indonesia (ngomong2 kenapa ya gerwani memakai kata wanita, sedang feminis kontemporer menolak kata wanita?). Meskipun tokoh Srintil tidak ikut dalam organisasi apapun, namun hanya digunakan sebagai alat partai (hal ini juga persis menggambarkan keadaan orang2 Lekra yang organisasinya dilarang dan anggotanya dipenjara). Srintil sendiri pun ketika menjadi seorang ronggeng, ia mulanya begitu bangga status dan identitasnya itu, namun setelah ia diciduk aparat dan dipenjara, nilai awalnya sebagai perempuan sebelum geger 1965 seketika dijauhi dan ia mengkonstruksi nilai seorang perempuan lain yang jauh dari ketika ia menjadi ronggeng; persis ketika Orde Baru menghancurkan gerakan perempuan dan mengkonstruksi sebuah pemahaman baru tentang perempuan yang penuh bias patriarkis dan ironisnya hingga sekarang nilai yang ditanamkan oleh Orde Baru itu masih langgeng di tengah masyarakat.

Dalam Tragedi 1965 sendiri banyak sekali orang-orang yang tidak bersalah menjadi korban. Bagaimana premis ini kemudian dibawakan dalam novel persis ketika orang-orang Dukuh Paruk yang sama sekali tidak mengerti politik, namun hanya dimanfaatkan sebagai alat partai, akibatnya Dukuh Paruk ikut pula dihancurkan. Baca sendirilah kesaksian2 para penyintas yang betebaran di internet.

Yang paling lucu menurut saya sendiri sebenarnya sosok Sersan Slamet yang digambarkan sangat kebapakan.[]

View all my reviews

Rabu, 10 Februari 2016

Galak



Alkisah seorang gadis perempuan difitnah oleh salah satu kekasih karibnya. Fitnahnya pun seperti sinetron dengan tema cinta segitiga, si kekasih menyukai si gadis sehingga membuat karibnya murka. Motifnya pun sepele dan terkesan arogan, hanya karena ingin diperhatikan. Si gadis pun tak terima diadu domba dengan karibnya sendiri. Parahnya karibnya pun dengan naif menerima fitnah itu tanpa curiga sedikitpun. Si gadis pun bersumpah di tengah derasnya hujan dan petir yang menggelegar, ia akan melawan patriarki!

Dengan saran seorang aktivis pergerakan libertarian, si gadis kesana kemari mencari dukungan teman-temannya yang lain. Satu demi satu teman-temannya menyatakan dukungannya, bahkan sebagian besar terenyuh oleh kisah pilu si gadis yang menjadi korban fitnah. Mulai dari teman-teman karibnya yang lain, lalu satu kelas mendukung dan lalu satu angkatan pun mendukung si gadis.

Si gadis pun langsung mengadakan konsolidasi bersama para pendukungnya untuk menentukan langkah selanjutnya. Isu yang dibawa masih sama, yaitu penghapusan terhadap sikap arogan dari seorang patriarkis. Mereka lalu menyusun berbagai kampanye dan tentunya tuntutan permintaan maaf dari si kekasih.

Tuntutannya pun dilakukan secara sistematis dan masif. Pada hari yang telah ditentukan, setiap pendukung akan mengirim foto selfie membawa plakat bertuliskan tuntutan permintaan maaf ke media sosial dan tak lupa menandai si kekasih. Lalu hari yang ditentukan telah tiba, puluhan foto bersarang di dinding si patriarkis dan menjadi perbincangan yang panas diantara para teman-teman kekasih dan berhasil membuat si patriarkis dipermalukan selama berhari-hari.

Polemik ini pun diakhiri permintaan maaf si patriarkis secara terbuka di akun media sosialnya. Si gadis bersama pendukungnya merayakan kemenangannya.***